Kajian: Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat

Sebagai penguasa berasaskan Islam terakhir di era ini, Kesultanan Utsmani merupakan tema yang banyak diangkat baru-baru ini, tak terkecuali Pemuda Al-Irsyad.

Kamis, 7 Maret 2019, barisan Pemuda Al-Irsyad membuka kajian yang bertajuk “Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat” bersama pakar sejarah islam Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl Otista Raya no. 64 Jakarta Timur, dengan semangat mengambil pelajaran dari kesultanan Utsmani. Kajian yang berjalan lebih dari 1 jam 30 menit ini dipaparkan dengan rapi oleh pemateri dari mulainya kebangkitan kesultanan utsmani sampai masa keruntuhannya.

Berbicara tentang masa kegemilangannya, Kesultanan Utsmani mengalami puncak kekuasaannya saat budaya ilmu dan penguatan aqidah digemarkan.

“Aqidah tanpa ilmu akan mengakibatkan kemunduran peradaban, dan ilmu tanpa disertai aqidah akan menimbulkan kesesatan dalam berilmu” ujar Dr. Tiar.

Dr. Tiar memberikan analisis kemajuan umat jika berkaca pada Kesultanan Utsmani dari berbagai aspek, yaitu aqidah, ilmu dan hormat ulama, akhlaq islam, komitmen memajukan umat, membangun kekuatan militer, dan membangan kekuatan politik.

Kajian yang dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum pemerhati sejarah, memberikan refleksi agar umat islam senantiasa tanpa henti memperjuangkan budaya ilmu. Ini juga bentuk adanya secercah harapan majunya budaya ilmu dikalangan anak muda saat ini adalah dengan banyaknya pertanyaan yang masuk selama seminar diadakan.

Semoga dengan adanya acara ini, semangat pemuda bisa makin bertumbuh dan dapat berperan lebih dalam memajukan peradaban Islam.

Gabungan Organisasi Pemuda Islam Temui Wapres

Jakarta – Gabungan 18 organisasi pemuda islam menemui Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, membahas masalah keumatan dan bangsa terutama peranan pemuda islam. Organisasi tersebut antara lain Pemuda Al-Irsyad, Pemuda PERSIS, Syabab Hidyatullah, HMI, Kammi, IMM, dan SEMI Al-Wasliyah.

Wapres berpesan agar pemuda bisa memakmurkan masjid agar masjid juga dapat menjadi sarana untuk memakmurkan masyrakat. Seorang muslim harus memiliki kekuatan dalam bidang ekonomi, sebab untuk berperan dalam urusan kenegaraan dan bangsa dibutuhkan ekonomi yang kuat.

Gabungan organisasi ini belum memiliki nama tetapi sudah menentukan rencana untuk menyelenggarakan muktamar pada 4-5 April 2019. Wapres cukup memberikan respon positif dan menekankan agar pemuda fokus pada pengembangan ekonomi umat.

“Pertemuan yang memiliki arti penting untuk membangun silaturrahim di antara ormas-ormas pemuda, dan antara ormas dengan pemerintah. Dengan ini bisa menyuarakan secara langsung aspirasi dan keinginan kita kepada pemerintah.” Fahmi Bahreisy, Lc. M.Si, Ketua PB Pemuda Al-Irsyad