Al-Irsyad Butuh Narasi Baru dan Berkelanjutan

Al-Irsyad adalah salah satu organisasi terbesar di Indonesia. Iya besar, historisnya. Jika ingin ditambahkan yaitu nama besar Syaikh Ahmad Surkati. Selebihnya, Tidak ada jaminan dan ukuran yang jelas bahwa selain dua hal itu, juga dapat disebut sebagai pertanda kebesaran Al-Irsyad. Entah itu lembaga pendidikan, cendikiawan, ataupun gedung sekretariatnya.

Jika pertanyaan itu ditujukan pada kalangan Irsyadi garis lucu, maka jawabannya adalah: “konfliknya yang besar.” Jawaban itu ada kiranya benar. Dualisme di Al-Irsyad bahkan berujung di Mahkamah Agung dan menghasilkan organisasi sempalan. Syukur alhamdulillah bahwa konflik baru-baru ini dapat diselesaikan dengan musyawarah, solusi yang memang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Konflik yang masih lestari ini bisa jadi tak kunjung padam karena tidak ada narasi lain dimunculkan dan dipelihara oleh Irsyadiyyin di seluruh Indonesia. Narasi lain itulah yang mesti dimunculkan untuk menutupi dan mengalihkan pandangan dari ‘bau konflik’ terus menerus. Irsyadiyyin se-Nusantara perlu difokuskan pada narasi-narasi baru nan menarik perhatian. Tentunya harus dikelola dan dijaga baik oleh para pimpinan.

Narasi Ideologi Sebagai Basis Kelahiran dan Kelestarian Organisasi

Jika dipandang dari sejarah berdirinya, Al-Irsyad lahir dari narasi kesetaraan dan pendidikan modern yang digaungkan oleh Syaikh Ahmad Surkati. Konflik dengan ba’alwi memang menjadi percikan awal, namun konflik itu bukanlah faktor tunggal, justru hanya kausalitas saja. Jika momen konflik itu berdiri sendiri dan tidak diberi narasi baru oleh Syaikh Ahmad, tidak bakal berdiri Al-Irsyad.

Sangat memungkinkan jika Syaikh Ahmad hanya fokus pada penyelesaian konflik, maka beliau akan berdialog tertutup, mengadakan konferensi pers, berterima kasih dan meminta maaf kepada semua pihak, lalu pamit pulang dan pulang ke Sudan atau ke Mekkah untuk mengajar. Namun ternyata beliau tidak seperti itu.

Syaikh Ahmad yang didukung oleh pengikut setianya berusaha untuk menjadikan momen konflik itu sebagai titik menghidupkan narasi kesetaraan dan pendidikan modern. Narasi itu kemudian disebar dan ditanamkan sebagai ideologi kepada para pengikutnya di seluruh Indonesia. Sehingga mereka semua bersemangat untuk mendirikan cabang, sekolah, dan mengembangkan aktivitas organisasi di tiap-tiap daerah.

Narasi terbukti menghasilkan perkumpulan, semangat, gerakan, hingga harta dan gedung-gedung bertingkat. Konflik memang akan terus ada sebagai hukum alam atas adanya perbedaan pendapat. Namun dengan sistem kelola organisasi dan kelola narasi yang apik, semangat dan gerakan itu akan terus ada. Tengok saja organisasi sebelah yang gencar mengumandangkan narasi Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan. Terlepas dari benar salahnya, narasi mereka memang terbukti menghasilkan sesuatu.

Namun kini, narasi apa yang dibuat oleh Al-Irsyad Al-Islamiyyah? Haduh, menyebut Al-Irsyad saja mesti ditambahkan Al-Islamiyyah. Jika tidak, nanti dikira partisan sempalan. Tidak simpel, tidak modern.

Minimnya Produksi/tor Narasi

Soal ketiadaan narasi ini tidaklah perlu menyalahkan siapapun. Anggaplah ini kesalahan bersama. Karena baik di pusat maupun di daerah sama-sama tidak memiliki narasi dan pembuatnya. Ormas memang memiliki kantor pusat di ibukota, namun para tokohnya tersebar di berbagai daerah. Sebagi pimpinan cabang maupun sebagai sesepuh organisasi.

Dalam pengamatan yang singkat dan sempit, sangat sulit menemukan cendikiawan maupun ustadz-ustadzah dari kalangan Al-Irsyad, terlebih yang murni lahir dari rahim organisasi berlambang hati dan sayap ini.

Padahal, cendikiawan dan asatidz adalah corong penyuaraan ide dan gagasan organisasi. Dengan merekalah, narasi organisasi memiliki landasan, baik landasan akademis maupun landasan agama. Tanpa kedua landasan itu, narasi yang dihasilkan tidaklah memiliki kekuatan pertanggung jawaban.

Organisasi, komunitas atau perkumpulan manapun memang tidak selalu membutuhkan gagasan yang valid dan mempunyai landasan akademis untuk bisa bersuara dan populer di mata masyarakat. Hanya bermodalkan sensasi atau pemenuhan keinginan, popularitas dan follower akan dapat diraih. Terlebih jika memiliki uang yang cukup banyak, pasukan pun bisa dibentuk. Namun, itu hanya bersifat sementara. Adapun ormas butuh berkelanjutan.

Bagaimana mungkin dapat menciptakan narasi ideal namun tidak memiliki pembuatnya? Anggaplah jika ada satu pembuat, namun siapa yang dapat menyebarkan dan menanamkannya di daerah-daerah? Apabila ada kesalahan tafsiran di akar rumput, siapa yang akan memberikan pemahaman? Dan jika terjadi kontra narasi yang dilontarkan oleh pihak lain, siapa yang akan memberikan klarifikasi?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti muncul di berbagai kalangan, baik dari internal maupun eksternal. Maka, pembuat narasi mesti benar-benar orang yang berkompeten di bidangnya. Selain memiliki landasan pemikiran yang kokoh, aspek komunikatif dalam tata bahasa sang narasi juga menjadi hal krusial. Hal ini penting agar narasi benar-benar tersampaikan dengan padat, jelas, dan mengurangi potensi kesalah pahaman.

Inilah yang dirasa minim di Al-Irsyad. Ustadz memang ada banyak. Namun Ustadz yang ‘bisa menulis’, tak yakin melebihi jari-jari di satu tangan. Lulusan S2 dan S3 memang ada banyak. Namun di sebuah Universitas sekalipun, tak semua dosen ‘bisa menulis’, apalagi di Al-Irsyad.

Maka soal narasi, tidak hanya narasi itu sendiri masalahnya. Pencipta narasi juga menjadi hal krusial yang sama pentingnya. Jika keduanya tidak dipenuhi, selamanya tidak aka nada gagasan-gagasan yang dikumandangkan dan diperjuangkan oleh Al-Irsyad.

Inkubator Narator

Sebagai alternatif solusi atas permasalahan yang dikemukakan di atas, maka jawabannya adalah pembibitan, penyiapan, dan pelatihan narator-narator baru Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Langkah ini sebagai alternatif solusi, perlu segera dipersiapkan dan diadakan. Terlebih jika berorientasi jangka panjang.

Jika Ustadz tidak ada dan cendikiawan juga tidak ada, maka satu-satunya yang perlu ada adalah pencetakan ustadz dan cendikiawan yang dapat membuat narator. Jika ketiganya tidak ada, maka beginilah nasib Al-Irsyad dalam 10 tahun ke depan. Namun jika dipersiapkan sejak dini, tidak menutup kemungkinan jika tahun depan sudah muncul narasi pemersatu Irsyadi.

Salah seorang kawan dari Muhammadiyah, mendapat pelatihan kepenulisan yang diadakan oleh PW Muhammadiyah Jawa Timur. Kawan tersebut tidak memiliki latar belakang menulis sama sekali. Dia hanya suka membaca buku, dengan daya baca yang tak juga tinggi. Namun setelah pelatihan itu, ia menjadi aktif menulis.

Story whatsapp tidak lepas dari update tulisannya di situs PWM Jatim. Hampir tiap hari ia menulis. Kawan tersebut sering diminta untuk hadir sebagai reporter dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, baik dari sekolah, rumah sakit, hingga kegiatan Ortom yang bersifat non-formal. Dalam hal ini, Muhammadiyah dan seorang kawna tersebut sama-sama diuntungkan.

Begitu pula salah seorang kawan lain dari NU. Kita tahu bahwa Nahdliyyin memiliki banyak portal yang tak kalah bagusnya dari situs resmi NU. Nah, sang kawan tersebut diajak untuk menjadi kontributor di salah satu portal tersebut. Jika dilihat dari kualitas tulisannya, tidak sampai pada tahap ‘memenuhi kualitas akademik’. Namun memang bukan itu tujuan rekrutmennya. Mereka hanya butuh penerus.

Pelibatan anak-anak muda ormas adalah untuk mengkader pencetak dan pelestari narasi. Mereka dididik sejak dini agar Ormas memiliki SDM yang cukup untuk menggaungkan pemikirannya. Dengan kader yang banyak, Ormas yakin bahwa narasinya akan terus lestari mesti telah berganti generasi.

Penggaungan narasi terus menerus oleh Ormas ini terbukti berhasil. NU dengan Islam Nusantara, dan Muhammadiyah dengan Islam Berkemajuan. Nahdliyyin yakin bahwa ormasnya yang paling cocok dengan NKRI. Sedangkan warga Persyarikatan yakin bahwa ormasnya memiliki pemikiran dan geraka yang paling maju di Indonesia. Tidak sedikit pula warga non-ormas yang sependapat dengan pandangan-pandangan tersebut.

Lalu bagaimana dengan Al-Irsyad? Kum.!

Dzhilaal Bahalwan, hanya anggota biasa dari Surabaya.

Pernyataan Sikap : Rancangan Undang – Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP)

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan kita segala nikmat-Nya terutama nikmat iman. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad S.A.W, para keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Kami dari Pengurus Pemuda Al-Irsyad merasa perlu menyampaikan sikap sebagai pendapat resmi kami atas Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), yaitu :

  1. Kami memandang bahwa RUU HIP tidak memuat filosofi Pancasila seperti yang telah ditetapkan oleh Founding Fathers kita pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang diberlakukan kembali oleh Dekrit Presiden tahun 1959. Sehingga Pancasila yang dijadikan objek pada RUU HIP adalah Pancasila yang tidak punya dasar hukum dengan pendirian awal negara Republik Indonesia.
  2. Kami menilai bahwa tidak ada satupun pasal yang membahas tentang musuh atau ancaman ideologi Pancasila yaitu Komunis/Marxisme/Leninisme yang secara jelas telah dilarang melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. Sehingga bagi kami, RUU HIP ini tidak menjiwai dan menghayati luka yang mendalam dari bangsa dan negara Indonesia yaitu terjadinya pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap ideologi Pancasila baik pada tahun 1948 maupun pada tahun 1965.
  3. Kami memandang bahwa UU HIP yang sedang dirancang sekarang adalah produk ulang dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang berusaha dihidupkan kembali karena adanya institusionalisasi dalam membina haluan ideologi Pancasila termasuk didalamnya mengadakan diklat dan pelatihan seperti layaknya pelaksanaan P4 pada masa lalu (Lihat Pasal 39 hingga Pasal 53 RUU HIP). Pada zaman Orde Baru, pelaksanaan P4 sarat dengan tafsiran pengamalan Pancasila versi penguasa pada saat itu dan lebih banyak berfungsi menjadi “tameng” penguasa Orde Baru untuk menjalankan praktek praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sekaligus untuk menjustifikasi tindakan zalim kepada lawan lawan politik rezim orde baru pada saat itu. Dengan adanya era reformasi pada tahun 1998, akhirnya P4 telah dicabut oleh Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVIII/MPR/1998. Sehingga menghidupkan kembali peraturan perundang-undangan yang mirip dengan P4 pada masa lalu sama saja dengan mengkhianati amanat reformasi yang telah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia.
  4. Atas dasar sejarah buruk dalam pelaksanaan P4 pada masa lalu, maka kami khawatir UU HIP dilaksanakan seperti pada masa lalu. Padahal secara kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) selama ini telah berfungsi sebagai Lembaga yang dapat membina haluan ideologi Pancasila melalui program yang dikenal dengan “Sosialisasi Empat Pilar” sebagaimana bunyi Tata Tertib Majlis Permusyawaratan Rakyat nomor 1 tahun 2014, Pasal 6 (b) yang menyatakan bahwa MPR bertugas untuk memasyarakatkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika sehingga tidak dibutuhkan kelembagaan baru dalam hal pembinaan ideologi Pancasila.
  5. Kami memandang bahwa Tugas MPR RI yang memasyarakatkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika sudah cukup untuk menjadi haluan bagi bangsa ini untuk mengarahkan ideologi Pancasila secara benar dan konsekuen. MPR RI merupakan Lembaga Negara yang mewakili kedaulatan Rakyat Indonesia sehingga telah benar benar mencerminkan konfigurasi Suku, Agama, Ras dan Etnis dari seluruh Rakyat Indonesia. Dengan demikian, MPR RI dapat memasyarakatkan Pancasila dengan tafsir dan pengamalan yang beragam sesuai dengan keberagaman Suku, Agama, Ras dan Etnis di Indonesia sebagai antitesa dari UU HIP yang akan membentuk Badan-badan Pembinaan Haluan Ideologi Pancasila sebagai pengarah pembangunan dan politik nasional (RUU HIP Pasal 45) yang sangat beresiko akan terjadinya penyeragaman tafsir dan pengamalan Pancasila sehingga bangsa kita kembali mundur kebelakang ( Set Back ) karena membuka peluang kembalinya bentuk otoritarianisme seperti zaman Orde Baru. Apalagi Badan-badan Pembinaan Haluan Ideologi Pancasila yang dibentuk akan menghabiskan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (Pasal 55 RUU HIP) ditengah kondisi keuangan negara kita yang tidak kondusif dan hutang negara yang terus membengkak.
  6. Kami menilai bahwa naskah dan materi RUU HIP hampir mirip seperti GBHN pada masa orde baru yang juga berisi norma hukum yang mengarahkan arah pembangunan nasional. Padahal GBHN telah dicabut oleh TAP MPR Nomor IX/MPR/1998 sebagai amanat reformasi karena naskah dan materi muatannya tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dewasa ini sehingga tidak dapat berfungsi sebagai pemberi arah bagi perjuangan dan pembangunan bangsa dalam mewujudkan cita – citanya seperti yang tertulis pada point (b) pada klausul “Menimbang”. GBHN telah digantikan oleh produk peraturan perundang undangan yang sudah ada seperti UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sisitem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU Nomor 17 tahun 2017 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 hingga 2025 yang berisi arah pembangunan nasional. Sehingga menghidupkan kembali Undang-undang yang berfungsi seperti layaknya GBHN adalah sebuah langkah mundur bangsa kita dan tumpang tindih dengan Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada.
  7. Kami memandang terdapat kesalahan logika hukum dalam Bagian Ketiga, Pasal 4 ayat (b) pada RUU HIP dinyatakan bahwa Haluan Ideologi Pancasila bertujuan (b) Sebagai arah bagi setiap warga negara Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ayat ini secara tidak langsung menjadikan UU HIP menjadi lebih tinggi kedudukannya daripada Pancasila itu sendiri yang menjadi Ideologi Negara. Karena menurut kami Pancasila justru menjadi dasar, arah sekaligus pedoman bagi setiap warga negara Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan 7 poin diatas, maka dengan ini kami Pemuda Al-Irsyad dengan tegas menyatak sikap sebagai berikut:

  1. Menolak keras Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dan menuntut agar seluruh upaya legislasi yang dilakukan baik perumusan, pembahasan dan pengesahannya untuk segera dihentikan.
  2. Menuntut Pimpinan & Paripurna Sidang DPR RI untuk membatalkan proses legislasi RUU HIP yang berpotensi merombak, mengkerdilkan dan mendegradasi Pancasila yang merupakan dasar negara sekaligus sumber dari segala sumber hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  3. Menuntut Pemerintah dalam hal ini Presiden RI untuk tidak mengesahkan RUU HIP yang berpotensi menjerumuskan bangsa ini ke dalam perpecahan serta mengusut tuntas inisiatornya yang amat dimungkinkan membawa misi yang mengancam keutuhan NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.
  4. Menyerukan kepada seluruh rakyat, ulama dan cendekiawan, tokoh masyarakat serta para aktivis yang peduli terhadap keutuhan NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 untuk mewaspadai bangkitnya gerakan komunis gaya baru yang memasuki ruang-ruang kekuasaan, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif yang melenggangkan jalan penguasaan anasir komunis melalui kemasan investasi, kucuran bantuan atau sejenisnya.
  5. Meminta dengan hormat kepada Garda Terdepan Bangsa yaitu TNI, Polri dan segenap unsur ketahanan masyarakat yang berjiwa nasionalis untuk segera melakukan tindakan masif terhadap setiap propaganda berbau Komunisme-Marxisme yang beredar di masyarakat sebagai bentuk pembentengan terhadap keutuhan NKRI yang berasaskan Pancasila & UUD 1945.

Kami menolak dengan Tegas RUU Haluan Ideologi Pancasila karena setiap Rumusan konstitusi kita, harus selalu menyebut , mengacu dan sejalan pada: 1). Pancasila, 2). UUD 1945, 3). TAP MPRS 1966, 4). Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai dasar penerapan kembali UUD45. Karena itu, Setiap UU yang tak sejalan apalagi bertentangan dengan ke-4 hal tsb di atas harus dinyatakan Batal Demi Hukum dan Tak Bisa Diberlakukan.

Demikian Pernyataan Sikap ini dibuat, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melindungi Bangsa & Negara Indonesia tercinta ini . Amin Ya Rabbal ’alamin .

Jakarta, 10 Juni 2020
PENGURUS BESAR PEMUDA AL-IRSYAD

Download dokumen lengkap: Pernyataan Sikap PB Pemuda Al Irsyad tentang RUU HIP

Ibadah Saat Wabah Berjangkit

Sehubungan dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan 1441 H yang sangat kita rindukan karena banyaknya pelipat gandaan pahala serta besarnya ampunan yang Allah sediakan buat orang-orang beriman di tengah suasana pandemi global Covid-19, maka kami perlu memberikan arahan singkat pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan tersebut, dengan bermohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang dikarunia ampunan dan pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepada seluruh warga Al Irsyad Al Islamiyyah hendaknya terus menjaga semangat beribadah kepada Allah dan mengikuti arahan yang datang dari pemerintah maupun ulama serta para ahli kesehatan agar terpelihara kesehatan baik jasmani maupun rohani.

Menghidupkan Ramadhan di masa Wabah Corona

  1. Bagi seorang muslim yang selalu optimis, semua kondisi hakikatnya memiliki maslahat dan hikmah. Begitu pula di saat kondisi wabah. Ini adalah momen bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan memohon ampunanNya:
    “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran, Ayat 133)
  2. Menghias rumah dengan suasana Al Quran, baik membaca, mentadabburinya, dan mengamalkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)
  3. Tidak melupakan shalat berjamaah, walau tidak bisa dilakukan di masjid di masa wabah, tapi hendaknya melakukannya di rumah bersama keluarga, baik shalat wajib apalagi shalat tarawih. Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah berkata tentang shalat berjamaah dimasa normal:
    “Berjamaah (shalat fardhu) itu sudah cukup dengan shalatnya seorang laki-laki di rumahnya bersama istrinya, anak-anaknya, atau selain mereka. Tetapi laki-laki di masjid adalah lebih utama, dan jamaah yang lebih banyak juga lebih utama.” (Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Al Fiqh Asy Syafi’iyyah Al Muyassar, 1/239)
  4. Meningkatkan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang terkena dampak ekonomi dimasa wabah, dimulai dari keluarga dekat, kerabat, dan seterusnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Dinar yang kau infakkan fisabilillah, dinar yang kau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang kau pakai untuk bersedekah ke orang miskin, dan dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu, maka pahala yang paling besar adalah dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)
  5. Tidak mengapa mengeluarkan zakat maal sebelum haulnya sebagaimana pendapat jumhur dengan syarat sudah mencapai nishab, untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan kaum muslimin. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
    “Bahwasanya Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hal penyegeraan zakatnya sebelum haul, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keringanan baginya dalam hal itu.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam al Hakim (Al Mustadrak no. 5431), dan disepakati Imam adz Dzahabi) Imam at Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:
    “Mayoritas ulama mengatakan: “Sesungguhnya menyegerakan zakat sebelum haulnya itu sah.” Inilah pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.” (Sunan At Tirmidzi, hal. 136. Pernerbit Dar Ibn al jauzi)
  6. Menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah, khususnya Qiyam Ramadhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: َ “Barangsiapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Muttafaq ‘Alaih) .
  7. Zakat fitrah ditunaikan masing-masing langsung ke mustahiq, atau melalui amil zakat yang bersedia menyalurkannya, dibagikan dalam bentuk makanan pokok maksimal sebelum saat shalat ld biasanya dilaksanakan.
  8. Tidak melalukan takbir keliling, atau semisalnya, sebagaimana himbauan ulama dan pihak berwenang.
  9. Shalat Idul Fitri tetap sah dan boleh dilakukan di rumah baik berjamaah atau sendiri, dalam rangka taqlilul mafasid (memperkecil potensi bahaya). Dapat dilaksanakan dengan khutbah atau tidak. Semua ini sah. Berikut ini ringkasan dari Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah:
    Sah shalat ‘Id bagi laki-laki dan perempuan, baik yang safar atau mukim, baik berjamaah atau sendiri, di rumah, masjid, dan lapangan (mushalla). Siapa yang tidak sempat melakukannya bersama jamaah maka hendaknya dia lakukan shalat dua rakaat. Imam Bukhari berkata: Bab Jika Luput shalat ‘Id hendaknya shalat dua rakaat, demikian juga kaum wanita, orang yang di rumah, dan di berbagai negeri. … Atha’ berkata: Jika seseorang tidak melakukan shalat ‘Id hendaknya dia shalat dua rakaat. Takbir (zawaaid) itu sunnah, tidak batal shalat karena meninggalkannya baik secara sengaja atau lupa. Ibnu Qudamah mengatakan: “Aku tidak ketahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.” Imam asy Syaukani menguatkannya bahwa siapa yang meninggalkan takbir secara sengaja dia tidak wajib sujud sahwi. Khutbah setelah shalat ‘Id itu sunnah, mendengarkannya juga sunnah. Abdullah bin as Saaib mengatakan: “Aku shalat ‘Id bersama Rasulullah Saw., setelah selesai shalat Beliau bersabda: “Kami akan berkhutbah, siapa mau mendengarkannya silahkan dia duduk, dan siapa yang lebih suka pergi silahkan dia pergi.” (HR. an Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah). (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/320)

Demikian bayan ini disampaikan, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jakarta, 28 Sya`ban 1441H./22 April 2020 M.
PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Tebar Qurban Nusantara

Tebar Qurban Nusantara hadir dengan semangat kepedulian kondisi Indonesia yang baru-baru ini diberi musibah di berbagai daerah. Sedangkan Idul Adha adalah hari raya umat Islam, dimana selama empat hari kita HARAM berpuasa. Karena itu, dengan kesadaran kondisi masyarakat, maka Pemuda Al-Irsyad bersama LAZNAS Al-Irsyad membagikan hewan qurban ke berbagai daerah, khususnya di Palu, Lombok dan Papua yang baru-baru ini ditimpa musibah besar.

Kamu bisa ikut berkontribusi dengan membeli hewan qurban yang ada di lokasi dengan harga:

  • Kambing Super : Rp 3.000.000
  • Sapi : Rp 14.000.000
  • Sapi (1/7) : Rp 2.000.000

Kirim ke rekening Pemuda Al-Irsyad

  • Bank : Muamalat
  • Nomor rekening : 383-000-2015
  • Atas nama : Perhimpunan Pemuda Al-Irsyad

Setelah transfer, wajib konfirmasi pembayaran ke nomor 0838-9999-0599

Jazakumullah khair atas perhatian, kontribusi dan doanya untuk kesuksesan acara Tebar Qurban Nusantara. Semoga menjadi berkah dan ribuan senyum masyarakat Indonesia di hari Idul Adha yang berbahagia.

Muktamar Pemuda Islam 2019 : Meneguhkan Spirit Kemandirian Ekonomi Umat

Muktamar Pemuda Islam insya Allah akan diselenggarakan untuk pertama kalinya dengan tema “Meneguhkan Spirit Kemandirian Ekonomi Umat“. Pemuda ingin mengambil peran lebih dalam usaha menguatkan ekonomi keumatan yang menjadi harapan besar saat ini.

“Pemuda hendak menguatkan persepsi pembangunan ekonomi keumatan di tengah hiruk-pikuk perpolitikan yang semrawut,” Najih Prasetyo, Ketua Steering Committee Muktamar Pemuda Islam.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Kamis, 4 April 2019 di Hotel Kartika Chandra. Selain Pemuda Al Irsyad ada banyak organisasi pemuda yang ikut, antara lain: PP KAMMI, DPP IMM, HIMA PERSIS, PB HMI, PP GPII, PMI SI, JPRMI, Pemuda PUI, DPP SEMMI, DPP PRIMA DMI, PB PII, Pemuda PERSIS, PB HMI MPO, PP GP AL WASHLIYAH, PB SEMMI, PP Pemuda Dewan Dakwah, Prima DMI, dan Syabab HidayatullahRatusan Pemuda.

Sesuai jadwal, Muktamar Pemuda Islam akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia  Syafruddin dan akan diisi diskusi bersama Aekjend MUI Anwar Abas, mantan menteri Perdagangan M Lutfi, dan Ketua DMI Rudiantara.

Ust. Fahmi Bahreisy, Ketua PB Pemuda Al-Irsyad, menjadi salah satu anggota Steering Committee Muktamar Pemuda Islam. Sejak tahap inisiasi acara dan pertemuan dengan Wapres RI, Yusuf Kalla, Pemuda Al-Irsyad ikut terlibat.

Pemuda Al-Irsyad insya Allah terus istiqomah dalam kolaborasi kebaikkan. Bukan hanya level nasional, tetapi juga level Internasional yaitu melalui ASEAN Youth Leaders Forum (AYLF).

Training I : Cirebon

Tepat satu bulan dari Training I jember dilaksanakan alhamdulillah Pemuda Al Irsyad kembali melanjutkan estafet kegiatan Training I yang telah di rencanakan. Kegiatan tersebut dibuka dan sekaligus ditutup oleh Ketua umum PC Pemuda Al Irsyad Kota Cirebon, Nazie Mar’ie , dan dihadiri perwakilan PC Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Cirebon, dan Ketua Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Ust. Hamid Abud Attamimi.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (Jumat, Sabtu, Ahad) setiap harinya peserta mendapatkan pelatihan dan diberikan ilmu-ilmu oleh para pemateri yang handal dalam bidangnya. Materi-materi yang diberikan seperti: mabadi, manajemen organisasi, sejarah perjuangan umat islam, aqidah, dll.

Peserta training kali ini berasal dari Cirebon, Sindang Laut dan Ciledug dari mulai ( tingkat SMA sampai Perguruan Tinggi). Keantusiasan peserta menjadi bukti bahwa peserta sangat bermangat dan berlomba-lomba dalam menggali potensi diri di setiap materi. Mudah-mudahan dengan Training Kepemimpinan ini peserta dapat mempraktikkan ilmu yang didapat ke masing-masing cabang, karena peran pemuda sebagai motor organisasi menjadikan vitalnya peran mereka di era melenial.

Kedepannya PB Pemuda Al Irsyad akan terus menjalankan estafet kaderisasi di kota-kota lain dalam waktu dekat , doakan agar kami selalu istiqomah. Aamiin Aamiin

Jazakumullah Khairan Katsiro

Meneruskan Estafet Kaderisasi
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
22 – 24 Maret 2019M / 15-17 Rajab

Aksi Teror terhadap Kaum Muslimin di Selandia Baru

Terjadi tragedi penembakan di Masjid Al-Noor dan Masjid Lindwood, Christchurch Selandia Baru pada hari Jum’at 15 Maret 2019, sekitar pukul 13:40 (waktu setempat) merupakan aksi teror terhadap kaum Muslimin. Oleh karena itu, Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Pemuda Al-Irsyad sangat berduka atas tragedi yang menimpa saudara kita umat Islam New Zealand (Selandia Baru), dan para korban yang meninggal insyaAllah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT.
  2. Pemuda Al-Irsyad mengecam dan mengutuk keras aksi teror yang sangat biadab dan brutal tersebut, yang mana hal ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang sadis.
  3. Pemuda Al-Irsyad mengajak umat Islam dan dunia internasional, agar ikut mendesak pemerintah New Zealand untuk segera mengusut tuntas kasus pembantaian ini, serta meningkatkan jaminan dan perlindungan keamanan kepada umat Islam yang berada disana.
  4. Pemuda Al-Irsyad menghimbau umat Islam khususnya di Indonesia, agar tetap bersikap tenang dan tidak mudah terprovokasi dalam bentuk apapun, serta tetap istiqomah dalam ukhuwah, dan senantiasa mendo’akan yang terbaik bagi umat Islam New Zealand, serta umat Islam di seluruh dunia.

Nashrun Min Allah wa Fathun Qarib.
Jakarta, 16 Maret 2019
PENGURUS BESAR PEMUDA AL-IRSYAD

Kajian: Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat

Sebagai penguasa berasaskan Islam terakhir di era ini, Kesultanan Utsmani merupakan tema yang banyak diangkat baru-baru ini, tak terkecuali Pemuda Al-Irsyad.

Kamis, 7 Maret 2019, barisan Pemuda Al-Irsyad membuka kajian yang bertajuk “Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat” bersama pakar sejarah islam Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl Otista Raya no. 64 Jakarta Timur, dengan semangat mengambil pelajaran dari kesultanan Utsmani. Kajian yang berjalan lebih dari 1 jam 30 menit ini dipaparkan dengan rapi oleh pemateri dari mulainya kebangkitan kesultanan utsmani sampai masa keruntuhannya.

Berbicara tentang masa kegemilangannya, Kesultanan Utsmani mengalami puncak kekuasaannya saat budaya ilmu dan penguatan aqidah digemarkan.

“Aqidah tanpa ilmu akan mengakibatkan kemunduran peradaban, dan ilmu tanpa disertai aqidah akan menimbulkan kesesatan dalam berilmu” ujar Dr. Tiar.

Dr. Tiar memberikan analisis kemajuan umat jika berkaca pada Kesultanan Utsmani dari berbagai aspek, yaitu aqidah, ilmu dan hormat ulama, akhlaq islam, komitmen memajukan umat, membangun kekuatan militer, dan membangan kekuatan politik.

Kajian yang dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum pemerhati sejarah, memberikan refleksi agar umat islam senantiasa tanpa henti memperjuangkan budaya ilmu. Ini juga bentuk adanya secercah harapan majunya budaya ilmu dikalangan anak muda saat ini adalah dengan banyaknya pertanyaan yang masuk selama seminar diadakan.

Semoga dengan adanya acara ini, semangat pemuda bisa makin bertumbuh dan dapat berperan lebih dalam memajukan peradaban Islam.

Gabungan Organisasi Pemuda Islam Temui Wapres

Jakarta – Gabungan 18 organisasi pemuda islam menemui Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, membahas masalah keumatan dan bangsa terutama peranan pemuda islam. Organisasi tersebut antara lain Pemuda Al-Irsyad, Pemuda PERSIS, Syabab Hidyatullah, HMI, Kammi, IMM, dan SEMI Al-Wasliyah.

Wapres berpesan agar pemuda bisa memakmurkan masjid agar masjid juga dapat menjadi sarana untuk memakmurkan masyrakat. Seorang muslim harus memiliki kekuatan dalam bidang ekonomi, sebab untuk berperan dalam urusan kenegaraan dan bangsa dibutuhkan ekonomi yang kuat.

Gabungan organisasi ini belum memiliki nama tetapi sudah menentukan rencana untuk menyelenggarakan muktamar pada 4-5 April 2019. Wapres cukup memberikan respon positif dan menekankan agar pemuda fokus pada pengembangan ekonomi umat.

“Pertemuan yang memiliki arti penting untuk membangun silaturrahim di antara ormas-ormas pemuda, dan antara ormas dengan pemerintah. Dengan ini bisa menyuarakan secara langsung aspirasi dan keinginan kita kepada pemerintah.” Fahmi Bahreisy, Lc. M.Si, Ketua PB Pemuda Al-Irsyad

Training I – Jember

Alhamdulillah , kegiatan Training I untuk daerah Jember berlangsung sesuai dengan rencana. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua umum PP Al Irsyad Al Islamiyyah, Ust. Dr. Faisol Madi, MA.

Ketua Al-Irsyad membuka training I di Jember

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (Jumat – Ahad). Setiap harinya peserta diberikan ilmu-ilmu oleh para pemateri yang handal dalam bidangnya. Materi yang diberikan beragam, yaitu mabadi, manajemen organisasi, aqidah, dsb

Peserta Training I kali ini khusus para Pemuda Al-Irsyad Jember, Bondowoso dan Pasuruan dari mulai tingkat SMA sampai Perguruan Tinggi

Antusiasme peserta sangatlah tinggi, terbukti saat peserta bertanya dan mempraktekan simulasi.

Penyerahan plakat - training I

Mudah-mudahan dengan Training Kepemimpinan ini peserta dapat mempraktekkan ilmunya untik cabang masing-masing, karna regenerasi adalah hal krusial dalam organisasi sehingga pemudalah yang menentukan perkembangan Al Irsyad.

InshaAllah Kedepannya PB Pemuda akan menyelenggarakan kaderisasi dalam bentuk training di kota-kota lain dalam waktu dekat, doakan agar kami selalu istiqomah. Aamiin Aamiin

Jazakumullah Khairan Katsiro