Muktamar Pemuda Islam 2019 : Meneguhkan Spirit Kemandirian Ekonomi Umat

Muktamar Pemuda Islam insya Allah akan diselenggarakan untuk pertama kalinya dengan tema “Meneguhkan Spirit Kemandirian Ekonomi Umat“. Pemuda ingin mengambil peran lebih dalam usaha menguatkan ekonomi keumatan yang menjadi harapan besar saat ini.

“Pemuda hendak menguatkan persepsi pembangunan ekonomi keumatan di tengah hiruk-pikuk perpolitikan yang semrawut,” Najih Prasetyo, Ketua Steering Committee Muktamar Pemuda Islam.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Kamis, 4 April 2019 di Hotel Kartika Chandra. Selain Pemuda Al Irsyad ada banyak organisasi pemuda yang ikut, antara lain: PP KAMMI, DPP IMM, HIMA PERSIS, PB HMI, PP GPII, PMI SI, JPRMI, Pemuda PUI, DPP SEMMI, DPP PRIMA DMI, PB PII, Pemuda PERSIS, PB HMI MPO, PP GP AL WASHLIYAH, PB SEMMI, PP Pemuda Dewan Dakwah, Prima DMI, dan Syabab HidayatullahRatusan Pemuda.

Sesuai jadwal, Muktamar Pemuda Islam akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia  Syafruddin dan akan diisi diskusi bersama Aekjend MUI Anwar Abas, mantan menteri Perdagangan M Lutfi, dan Ketua DMI Rudiantara.

Ust. Fahmi Bahreisy, Ketua PB Pemuda Al-Irsyad, menjadi salah satu anggota Steering Committee Muktamar Pemuda Islam. Sejak tahap inisiasi acara dan pertemuan dengan Wapres RI, Yusuf Kalla, Pemuda Al-Irsyad ikut terlibat.

Pemuda Al-Irsyad insya Allah terus istiqomah dalam kolaborasi kebaikkan. Bukan hanya level nasional, tetapi juga level Internasional yaitu melalui ASEAN Youth Leaders Forum (AYLF).

Training I : Cirebon

Tepat satu bulan dari Training I jember dilaksanakan alhamdulillah Pemuda Al Irsyad kembali melanjutkan estafet kegiatan Training I yang telah di rencanakan. Kegiatan tersebut dibuka dan sekaligus ditutup oleh Ketua umum PC Pemuda Al Irsyad Kota Cirebon, Nazie Mar’ie , dan dihadiri perwakilan PC Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Cirebon, dan Ketua Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Ust. Hamid Abud Attamimi.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (Jumat, Sabtu, Ahad) setiap harinya peserta mendapatkan pelatihan dan diberikan ilmu-ilmu oleh para pemateri yang handal dalam bidangnya. Materi-materi yang diberikan seperti: mabadi, manajemen organisasi, sejarah perjuangan umat islam, aqidah, dll.

Peserta training kali ini berasal dari Cirebon, Sindang Laut dan Ciledug dari mulai ( tingkat SMA sampai Perguruan Tinggi). Keantusiasan peserta menjadi bukti bahwa peserta sangat bermangat dan berlomba-lomba dalam menggali potensi diri di setiap materi. Mudah-mudahan dengan Training Kepemimpinan ini peserta dapat mempraktikkan ilmu yang didapat ke masing-masing cabang, karena peran pemuda sebagai motor organisasi menjadikan vitalnya peran mereka di era melenial.

Kedepannya PB Pemuda Al Irsyad akan terus menjalankan estafet kaderisasi di kota-kota lain dalam waktu dekat , doakan agar kami selalu istiqomah. Aamiin Aamiin

Jazakumullah Khairan Katsiro

Meneruskan Estafet Kaderisasi
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
22 – 24 Maret 2019M / 15-17 Rajab

Aksi Teror terhadap Kaum Muslimin di Selandia Baru

Terjadi tragedi penembakan di Masjid Al-Noor dan Masjid Lindwood, Christchurch Selandia Baru pada hari Jum’at 15 Maret 2019, sekitar pukul 13:40 (waktu setempat) merupakan aksi teror terhadap kaum Muslimin. Oleh karena itu, Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Pemuda Al-Irsyad sangat berduka atas tragedi yang menimpa saudara kita umat Islam New Zealand (Selandia Baru), dan para korban yang meninggal insyaAllah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT.
  2. Pemuda Al-Irsyad mengecam dan mengutuk keras aksi teror yang sangat biadab dan brutal tersebut, yang mana hal ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang sadis.
  3. Pemuda Al-Irsyad mengajak umat Islam dan dunia internasional, agar ikut mendesak pemerintah New Zealand untuk segera mengusut tuntas kasus pembantaian ini, serta meningkatkan jaminan dan perlindungan keamanan kepada umat Islam yang berada disana.
  4. Pemuda Al-Irsyad menghimbau umat Islam khususnya di Indonesia, agar tetap bersikap tenang dan tidak mudah terprovokasi dalam bentuk apapun, serta tetap istiqomah dalam ukhuwah, dan senantiasa mendo’akan yang terbaik bagi umat Islam New Zealand, serta umat Islam di seluruh dunia.

Nashrun Min Allah wa Fathun Qarib.
Jakarta, 16 Maret 2019
PENGURUS BESAR PEMUDA AL-IRSYAD

Kajian: Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat

Sebagai penguasa berasaskan Islam terakhir di era ini, Kesultanan Utsmani merupakan tema yang banyak diangkat baru-baru ini, tak terkecuali Pemuda Al-Irsyad.

Kamis, 7 Maret 2019, barisan Pemuda Al-Irsyad membuka kajian yang bertajuk “Kesultanan Utsmani dan Strategi Masa Depan Umat” bersama pakar sejarah islam Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl Otista Raya no. 64 Jakarta Timur, dengan semangat mengambil pelajaran dari kesultanan Utsmani. Kajian yang berjalan lebih dari 1 jam 30 menit ini dipaparkan dengan rapi oleh pemateri dari mulainya kebangkitan kesultanan utsmani sampai masa keruntuhannya.

Berbicara tentang masa kegemilangannya, Kesultanan Utsmani mengalami puncak kekuasaannya saat budaya ilmu dan penguatan aqidah digemarkan.

“Aqidah tanpa ilmu akan mengakibatkan kemunduran peradaban, dan ilmu tanpa disertai aqidah akan menimbulkan kesesatan dalam berilmu” ujar Dr. Tiar.

Dr. Tiar memberikan analisis kemajuan umat jika berkaca pada Kesultanan Utsmani dari berbagai aspek, yaitu aqidah, ilmu dan hormat ulama, akhlaq islam, komitmen memajukan umat, membangun kekuatan militer, dan membangan kekuatan politik.

Kajian yang dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum pemerhati sejarah, memberikan refleksi agar umat islam senantiasa tanpa henti memperjuangkan budaya ilmu. Ini juga bentuk adanya secercah harapan majunya budaya ilmu dikalangan anak muda saat ini adalah dengan banyaknya pertanyaan yang masuk selama seminar diadakan.

Semoga dengan adanya acara ini, semangat pemuda bisa makin bertumbuh dan dapat berperan lebih dalam memajukan peradaban Islam.

Gabungan Organisasi Pemuda Islam Temui Wapres

Jakarta – Gabungan 18 organisasi pemuda islam menemui Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, membahas masalah keumatan dan bangsa terutama peranan pemuda islam. Organisasi tersebut antara lain Pemuda Al-Irsyad, Pemuda PERSIS, Syabab Hidyatullah, HMI, Kammi, IMM, dan SEMI Al-Wasliyah.

Wapres berpesan agar pemuda bisa memakmurkan masjid agar masjid juga dapat menjadi sarana untuk memakmurkan masyrakat. Seorang muslim harus memiliki kekuatan dalam bidang ekonomi, sebab untuk berperan dalam urusan kenegaraan dan bangsa dibutuhkan ekonomi yang kuat.

Gabungan organisasi ini belum memiliki nama tetapi sudah menentukan rencana untuk menyelenggarakan muktamar pada 4-5 April 2019. Wapres cukup memberikan respon positif dan menekankan agar pemuda fokus pada pengembangan ekonomi umat.

“Pertemuan yang memiliki arti penting untuk membangun silaturrahim di antara ormas-ormas pemuda, dan antara ormas dengan pemerintah. Dengan ini bisa menyuarakan secara langsung aspirasi dan keinginan kita kepada pemerintah.” Fahmi Bahreisy, Lc. M.Si, Ketua PB Pemuda Al-Irsyad

Pemimpin: Cermin Masyarakat

Seorang pemimpin bagaikan cermin.

Menjadi pemimpin bukan persoalan yang mudah. Ia harus melalui beberapa tahapan persyaratan: siap mental, siap fisik, dan siap berkorban. Apabila ketiga unsur pokok ini sudah dijiwai, dengan sendirinya proses selanjutnya bisa membentuk perwatakan.

Setelah ibda binafsika (mulailah pada dirimu sendiri), sabda Rasulullah, kemudian beliau mengatakan kullu raa’in mas’uulun ‘an ra’iyyatihi  (setiap pemimpin itu bertanggung jawab terhadap yang dipimpin).

Pada diri pemimpin, segala perbuatannya adalah manifestasi dan ungkapan semua rahasia yang terpendam pada dirinya. Perkataannya seiya dengan perbuatannya. Kalau ia menyuruh seseorang berbuat kebaikan, maka ia adalah orang yang paling teladan dalam hal itu. Kalau ia mencegah seseorang berbuat kemungkaran, maka ia adalah orang yang paling jauh dari perbuatan itu.

Suatu hari, Abu Dzar Alghifari pernah mencalonkan dirinya untuk ditempatkan memimpin di suatu daerah:

“Ya Rasulullah, manfaatkan aku memimpin di suatu wilayah.”

Rasulullah menepuk-nepuk pundak Abu Dzar sahabat kesayangannya itu dan mengatakan:

“Wahai Abu Dzar, kau ini lemah, sedangkan amanat yang bakal kau emban ini berat, dan bisa membawa celaka serta penyesalan di hari kiamat nanti, kecuali bagi yang berani dengan tegas menegakkan segala kebenaran dan menunaikan segala kewajiban tanggungjawabnya.”

Suatu hal yang wajar, apabila seorang pemimpin rakyat itu bertanggungjawab atas segala perbuatannya terhadap rakyat yang pernah mengangkatnya. Begitu juga pemimpin dalam suatu organisasi.

Setiap muktamar telah digariskan bersama arah yang dituju oleh organisasi ini. Wajar kalau PSI mengarah kepada Zionis dan sekuler. Wajar kalau PKI itu mengarah kepada komunisme. Wajar kalau organisasi Al-Irsyad itu mengarah kepada mengajarkan ajaran Islam yang benar pada setiap muslim. Dan tidak wajar kalau perguruan Al-Irsyad itu memproduk manusia-manusia sekuler yang tidak mengerti agama sama sekali. Kalau ingin mencipta manusia sekuler sebaiknya jangan mengotori wadah Al-Irsyad yang sudah jelas bertugas memproduk ulama dan cendekiawan Muslim.

Setiap orang yang menamakan dirinya sebagai pemimpin dalam tubuh Al-Irsyad, apakah ia di pusat ataukah di cabang, di Perhimpunan atau di Yayasan, atau bertugas di mana saja, ia dituntut oleh masyarakat dan Allah swt. menunaikan amanat yang telah digariskan. Dan tidak membiarkan setiap persoalan itu lewat begitu saja dan masa bodoh.

Benar kata Umar ibnul-Khattab:

“Sesungguhnya Amirul-mukminin itu salah seorang dari kalian, hanya saja ia mengemban beban tugas yang lebih berat dari kalian.”

Jelas sekali seorang pemimpin itu seperti berdiri di depan sebuah cermin.*

 

Oleh: Mustafa Mahdamy (Pendiri dan ketua umum pertama PB PELAJAR AI-IRSYAD, 1954-1964)

(Dikutip dari Majalah “Suara Al-Irsyad”, No. 3 Tahun XI, Agustus 1981)

Training I – Jember

Alhamdulillah , kegiatan Training I untuk daerah Jember berlangsung sesuai dengan rencana. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua umum PP Al Irsyad Al Islamiyyah, Ust. Dr. Faisol Madi, MA.

Ketua Al-Irsyad membuka training I di Jember

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (Jumat – Ahad). Setiap harinya peserta diberikan ilmu-ilmu oleh para pemateri yang handal dalam bidangnya. Materi yang diberikan beragam, yaitu mabadi, manajemen organisasi, aqidah, dsb

Peserta Training I kali ini khusus para Pemuda Al-Irsyad Jember, Bondowoso dan Pasuruan dari mulai tingkat SMA sampai Perguruan Tinggi

Antusiasme peserta sangatlah tinggi, terbukti saat peserta bertanya dan mempraktekan simulasi.

Penyerahan plakat - training I

Mudah-mudahan dengan Training Kepemimpinan ini peserta dapat mempraktekkan ilmunya untik cabang masing-masing, karna regenerasi adalah hal krusial dalam organisasi sehingga pemudalah yang menentukan perkembangan Al Irsyad.

InshaAllah Kedepannya PB Pemuda akan menyelenggarakan kaderisasi dalam bentuk training di kota-kota lain dalam waktu dekat, doakan agar kami selalu istiqomah. Aamiin Aamiin

Jazakumullah Khairan Katsiro

Cinta Sejati

Rasa cinta merupakan fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia bahkan dalam setiap makhluk hidup. Ia adalah salah satu bagian dari nikmat dan karunia Allah kepada manusia. Tanpa ada rasa cinta, tidak akan terjalin hubungan yang harmonis diantara sesama manusia.
Tanpa ada rasa cinta, manusia akan hidup dalam nuansa yang diliputi dengan kebencian dan permusuhan. Seorang ibu memberikan kasih sayangnya kepada anaknya didasarkan pada rasa cinta. Seorang guru dengan kesabarannya mendidik murid-muridnya juga didasari karena rasa cinta. Namun, cinta yang seperti apa yang dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis?
Islam yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin menganjurkan kepada ummatnya untuk hidup saling mencintai dan mencela kaum yang saling bermusuhan dan saling membenci. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian saling membenci, dan jangan saling mendengki, jangan saling bermusuhan, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq ‘Alaih).
Dari sini kita dapat memahami bahwa ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia. Dan tidak ada satupun aturan yang telah ditetapkan oleh, kecuali ia ditujukan demi kemaslahatan manusia. Begitu juga dengan rasa cinta yang ada di dalam diri manusia, Islam telah mengatur cinta yang seperti apakah yang dapat mewujudkan kerukunan dan keharmonisan bagi kehidupan manusia.
Islam mengakui rasa cinta, bahkan berdasarkan hadits diatas Islam mendorong untuk hidup dengan sesama manusia dan makhluk hidup dengan penuh rasa cinta.  Akan tetapi, Islam juga mengatur dan menjelaskan bagaimana caranya agar rasa cinta ini menjadi sebuah kekuatan yang memberikan rasa nyaman dalam kehidupan manusia.
Dan apa yang kita lihat di zaman sekarang ini menjadi bukti nyata dari penjelasan diatas. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram sudah menjadi sebuah budaya yang bisa kita saksikan sehari-hari. Dengan mengatasnamakan cinta, mereka bebas melakukan hubungan terlarang hingga pada akhirnya muncullah perzinahan dan mengakibatkan kehamilan di luar nikah. Padahal Allah dengan tegas berfirman di dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Israa’ : 32)
Bahkan dalam era modern, dimunculkanlah hari raya Valentine sebagai hari cinta dan kasih sayang. Padahal ia merupakan hari “perzinahan dunia,” sebab saat itulah laki-laki dan wanita mengungkapkan rasa cintanya kepada pasangannya tanpa ada batasan dan aturan.
Terlebih lagi, pada saat ini muncul hubungan sesama jenis, lagi-lagi dengan mengatasnamakan cinta dan rasa saling suka. Sungguh, ini adalah cinta yang palsu dan tidak sejalan dengan fitrah dan akal manusia. Binatang saja tidak yang melakukan hubungan sesama jenis, lantas mengapa manusia yang dibekali akal untuk berpikir melakukan hal yang sangat tercela dan dimurkai ini? Tidakkah mereka ingat hukuman apa yang telah Allah berikan kepada kaumnya Nabi Luth disaat mereka melakukan hubungan sejenis?
Allah SWT berfirman “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS. al-A’raaf: 80-81).
Manakala sebuah cinta tidak berlandaskan pada cinta karena Allah, ia akan berubah dari cinta yang indah menjadi cinta yang membinasakan. Cinta yang sejati yang dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup ialah cinta karena Allah. Ia juga menjadi bukti kuatnya iman seorang muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tali iman yang paling kuat ialah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (H.R. Ahmad).
Wallahu a’lam

4 Kriteria Pemimpin dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam merupakan perkara penting dalam kehidupan beragama setiap muslim. Ia merupakan unsur yang sangat vital dalam tegaknya agama Islam, sebab syari’at Islam hanya bisa ditegakkan secara sempurna manakala kepemimpinan dalam sebuah negara atau wilayah dikuasai oleh orang yang memiliki perhatian terhadap syariat itu sendiri. Sebaliknya, tatkala kepemimpinan dipegang oleh mereka yang anti terhadap syariat Islam dan tidak suka terhadap aturan-aturan Allah, maka sulit sekali Islam akan tegak di dalamnya.

Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyyah mengatakan, “Tidak ada agama yang kehilangan kekuasaan/kepemimpinan, kecuali aturan-aturannya juga akan tergantikan dengan aturan yang lain dan simbol-simbol dari agama tersebut juga akan dilenyapkan dari wilayah tersebut.”

Oleh sebab itu, memilih pemimpin merupakan perkara yang sangat penting. Ia tidak hanya sekedar untuk menentukan siapa yang berkuasa, akan tetapi lebih dari itu, ia akan menentukan tegak atau tidaknya aturan Islam. Maka dari itu, sebagai mukmin kita harus selektif dalam menentukan pemimpin agar tidak salah dalam memilih. Kita harus mengetahui siapakah pemimpin yang layak untuk dipilih dan bagaimana kriteria pemimpin yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya?

Kriteria pemimpin yang yang pertama ialah dia adalah seorang mukmin. Sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin akan membela agama Islam kalau ia adalah orang yang kafir yang tidak percaya kepada aturan Allah? Bagaimana mungkin ia akan memperhatikan ajaran-ajaran Rasulullah, jika ia adalah orang yang tidak percaya akan kenabian Muhammad SAW?

Oleh sebab itu, Allah secara tegas memerintahkan bahwa pemimpin yang patut untuk ditaati adalah pemimpin dari kalangan kaum mukminin, sebagaimana yang termaktub dalam Surat An-Nisa’ : “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Ayat ini tertuju kepada orang-orang yang beriman. Dan kita perhatikan, kata-kata “minkum (diantara kamu)” menunjukkan bahwa pemimpin yang wajib untuk ditaati ialah pemimpin yang berasal dari kalangan orang-orang mukmin.

Selain itu, banyak sekali keterangan di dalam Al-Qur’an yang melarang kaum muslimin untuk bersikap loyal kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Barang siapa yang rela dan menerima pemimpin yang bukan dari orang Islam, maka hal itu berarti ia telah berwala’ (loyal) kepada mereka.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin merupakan bagian dari sikap loyalitas dia kepada orang kafir. Allah telah menetapkan bahwa barang siapa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka ia termasuk bagian dari mereka. Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali dengan cara berlepas diri dari mereka. “

Kritieria pemimpin menurut Islam yang kedua ialah adil. Selain ia adalah seorang mukmin, ia juga adalah seorang yang adil. Adil dalam bersikap dan menerapkan hukum dan peraturan kepada siapa saja. Tidak membeda-bedakan apakah ia berasal dari kelompok atau kalangan manapun. Tidak mengistimewakan kalangan tertentu dan mengucilkan yang lainnya.  Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para khulafaur rasyidin. Bahkan Rasulullah SAW pernah menegur keras Usamah bin Zaid yang ingin membela salah satu kaum karena telah melakukan pencurian. Ia ingin meminta keringanan hukuman kepada Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah mengecam keras sikap tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan karena mereka menegakkan hukuman bagi kalangan yang lemah saja, namun ia tidak menerapkannya kepada orang-orang dari kalangan atas. Demi Allah, seandainya Fatimah mencuri, pasti aku akan potong tangannya.”

Kriteria yang ketiga ialah ia adalah seseorang yang memegang amanah terhadap janji-janjinya. Amanah untuk menjaga dan mengatur kekuasaan, hak dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Sebab, kekuasaan yang telah diserahkan kepadanya merupakan tanggung jawab yang harus ia jalankan secara benar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada yang berhak.” (QS. an-Nisa’: 58). Dalam ayat yang lain Ia juga berfirman, “Sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau pilih ialah orang yang kuat dan amanah.” (QS. al-Qashash: 26).

Yang keempat ialah kuat, baik secara fisik, mental, dan pikiran. Hal ini penting agar kekuasaan tersebut berjalan dengan lancar. Ia tidak mudah jatuh sakit dan lemah, sebab hal ini akan menjadikannya tidak fokus dalam menjalankan kekuasaan. Ia juga tegas dalam bersikap, agar tidak dipermainkan oleh rakyatnya. Tentu tegas bukan berarti bersikap kasar dan serampangan, tetapi ketegasan yang disertai dengan sikap yang bijak dan santun. Ia juga kuat dalam pikiran dalam artian memiliki wawasan yang luas serta kecermatan menentukan kebijakan. Pemimpin seperti inilah yang diinginkan oleh Allah SWT, sebagai tertera dalam surat Al-Qashash diatas dan juga sebagaimana perkataannya Nabi Yusuf a.s. “Jadikanlah aku sebagai penjaga kas negara, sebab aku adalah orang yang memegang amanah dan juga berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).

Mukmin, adil, amanah dan kuat adalah beberapa kriteria pemimpin yang dapat menjadi ukuran bagi setiap mukmin dalam memilih pemimpinnya. Sebab, ini adalah perkara penting dalam kehidupan beragama kita. Kepemimpinan dalam Islam merupakan bagian dari ibadah, yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Semoga Allah memberikan kita para pemimpin yang berkhidmat untuk Islam dan membawa kemashlahatan bagi umat Islam. Amiin.

Ukhwah Islamiyyah Tak Kenal Batas Negara

Ukhwah islamiyyah tak kenal batas jarak, negara, atau benua sekalipun

Alhamdulillah. Perwakilan Pemuda Al-Irsyad memiliki kesempatan menjalin silaturahmi dengan saudara kita di Malaysia melalui @aylfindonesia

Hadir dari AYLF Malaysia, Muaz Nawawi dan dr. Aisyah (President AYLF Malaysia). Silaturahmi ini alhamdulillah membuka potensi kolaborasi internasional. Semoga bisa menjadi kantung kebaikan baru bagi Pemuda Al-Irsyad