Pemimpin: Cermin Masyarakat

Seorang pemimpin bagaikan cermin.

Menjadi pemimpin bukan persoalan yang mudah. Ia harus melalui beberapa tahapan persyaratan: siap mental, siap fisik, dan siap berkorban. Apabila ketiga unsur pokok ini sudah dijiwai, dengan sendirinya proses selanjutnya bisa membentuk perwatakan.

Setelah ibda binafsika (mulailah pada dirimu sendiri), sabda Rasulullah, kemudian beliau mengatakan kullu raa’in mas’uulun ‘an ra’iyyatihi  (setiap pemimpin itu bertanggung jawab terhadap yang dipimpin).

Pada diri pemimpin, segala perbuatannya adalah manifestasi dan ungkapan semua rahasia yang terpendam pada dirinya. Perkataannya seiya dengan perbuatannya. Kalau ia menyuruh seseorang berbuat kebaikan, maka ia adalah orang yang paling teladan dalam hal itu. Kalau ia mencegah seseorang berbuat kemungkaran, maka ia adalah orang yang paling jauh dari perbuatan itu.

Suatu hari, Abu Dzar Alghifari pernah mencalonkan dirinya untuk ditempatkan memimpin di suatu daerah:

“Ya Rasulullah, manfaatkan aku memimpin di suatu wilayah.”

Rasulullah menepuk-nepuk pundak Abu Dzar sahabat kesayangannya itu dan mengatakan:

“Wahai Abu Dzar, kau ini lemah, sedangkan amanat yang bakal kau emban ini berat, dan bisa membawa celaka serta penyesalan di hari kiamat nanti, kecuali bagi yang berani dengan tegas menegakkan segala kebenaran dan menunaikan segala kewajiban tanggungjawabnya.”

Suatu hal yang wajar, apabila seorang pemimpin rakyat itu bertanggungjawab atas segala perbuatannya terhadap rakyat yang pernah mengangkatnya. Begitu juga pemimpin dalam suatu organisasi.

Setiap muktamar telah digariskan bersama arah yang dituju oleh organisasi ini. Wajar kalau PSI mengarah kepada Zionis dan sekuler. Wajar kalau PKI itu mengarah kepada komunisme. Wajar kalau organisasi Al-Irsyad itu mengarah kepada mengajarkan ajaran Islam yang benar pada setiap muslim. Dan tidak wajar kalau perguruan Al-Irsyad itu memproduk manusia-manusia sekuler yang tidak mengerti agama sama sekali. Kalau ingin mencipta manusia sekuler sebaiknya jangan mengotori wadah Al-Irsyad yang sudah jelas bertugas memproduk ulama dan cendekiawan Muslim.

Setiap orang yang menamakan dirinya sebagai pemimpin dalam tubuh Al-Irsyad, apakah ia di pusat ataukah di cabang, di Perhimpunan atau di Yayasan, atau bertugas di mana saja, ia dituntut oleh masyarakat dan Allah swt. menunaikan amanat yang telah digariskan. Dan tidak membiarkan setiap persoalan itu lewat begitu saja dan masa bodoh.

Benar kata Umar ibnul-Khattab:

“Sesungguhnya Amirul-mukminin itu salah seorang dari kalian, hanya saja ia mengemban beban tugas yang lebih berat dari kalian.”

Jelas sekali seorang pemimpin itu seperti berdiri di depan sebuah cermin.*

 

Oleh: Mustafa Mahdamy (Pendiri dan ketua umum pertama PB PELAJAR AI-IRSYAD, 1954-1964)

(Dikutip dari Majalah “Suara Al-Irsyad”, No. 3 Tahun XI, Agustus 1981)

Cinta Sejati

Rasa cinta merupakan fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia bahkan dalam setiap makhluk hidup. Ia adalah salah satu bagian dari nikmat dan karunia Allah kepada manusia. Tanpa ada rasa cinta, tidak akan terjalin hubungan yang harmonis diantara sesama manusia.
Tanpa ada rasa cinta, manusia akan hidup dalam nuansa yang diliputi dengan kebencian dan permusuhan. Seorang ibu memberikan kasih sayangnya kepada anaknya didasarkan pada rasa cinta. Seorang guru dengan kesabarannya mendidik murid-muridnya juga didasari karena rasa cinta. Namun, cinta yang seperti apa yang dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis?
Islam yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin menganjurkan kepada ummatnya untuk hidup saling mencintai dan mencela kaum yang saling bermusuhan dan saling membenci. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian saling membenci, dan jangan saling mendengki, jangan saling bermusuhan, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq ‘Alaih).
Dari sini kita dapat memahami bahwa ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia. Dan tidak ada satupun aturan yang telah ditetapkan oleh, kecuali ia ditujukan demi kemaslahatan manusia. Begitu juga dengan rasa cinta yang ada di dalam diri manusia, Islam telah mengatur cinta yang seperti apakah yang dapat mewujudkan kerukunan dan keharmonisan bagi kehidupan manusia.
Islam mengakui rasa cinta, bahkan berdasarkan hadits diatas Islam mendorong untuk hidup dengan sesama manusia dan makhluk hidup dengan penuh rasa cinta.  Akan tetapi, Islam juga mengatur dan menjelaskan bagaimana caranya agar rasa cinta ini menjadi sebuah kekuatan yang memberikan rasa nyaman dalam kehidupan manusia.
Dan apa yang kita lihat di zaman sekarang ini menjadi bukti nyata dari penjelasan diatas. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram sudah menjadi sebuah budaya yang bisa kita saksikan sehari-hari. Dengan mengatasnamakan cinta, mereka bebas melakukan hubungan terlarang hingga pada akhirnya muncullah perzinahan dan mengakibatkan kehamilan di luar nikah. Padahal Allah dengan tegas berfirman di dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Israa’ : 32)
Bahkan dalam era modern, dimunculkanlah hari raya Valentine sebagai hari cinta dan kasih sayang. Padahal ia merupakan hari “perzinahan dunia,” sebab saat itulah laki-laki dan wanita mengungkapkan rasa cintanya kepada pasangannya tanpa ada batasan dan aturan.
Terlebih lagi, pada saat ini muncul hubungan sesama jenis, lagi-lagi dengan mengatasnamakan cinta dan rasa saling suka. Sungguh, ini adalah cinta yang palsu dan tidak sejalan dengan fitrah dan akal manusia. Binatang saja tidak yang melakukan hubungan sesama jenis, lantas mengapa manusia yang dibekali akal untuk berpikir melakukan hal yang sangat tercela dan dimurkai ini? Tidakkah mereka ingat hukuman apa yang telah Allah berikan kepada kaumnya Nabi Luth disaat mereka melakukan hubungan sejenis?
Allah SWT berfirman “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS. al-A’raaf: 80-81).
Manakala sebuah cinta tidak berlandaskan pada cinta karena Allah, ia akan berubah dari cinta yang indah menjadi cinta yang membinasakan. Cinta yang sejati yang dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup ialah cinta karena Allah. Ia juga menjadi bukti kuatnya iman seorang muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tali iman yang paling kuat ialah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (H.R. Ahmad).
Wallahu a’lam