Link Islami

Facebook: Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad
RSS: 10 berita terakhir
midoCMS: Simple & Flexible CMS Solutions

Sekarang atau Tidak Sama Sekali!

Oleh: Admin, 27 September 2007 20:29

Bookmark and Share

Mansyur AlKatiriOleh: Mansyur Alkatiri

Ratapan panjang para aktifis Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah terhadap mandeknya proses kaderisasi di tubuh organisasi ini, insya Allah akan segera berakhir.

Menyusul dibukanya kembali pintu bagi otonomi Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad di Muktamar ke-38 di Cibubur (Jakarta), Oktober tahun lalu, kini kalangan muda Al-Irsyad tengah menyiapkan semua kelengkapan struktur dan fungsi kedua calon badan otonom itu, termasuk perencanaan sistem perkaderan formal berjenjang bagi Pelajar Al-Irsyad, dan beberapa program perkaderan khusus bagi Pemuda Al-Irsyad.

Persiapan-persiapan itu memang terus terhambat oleh masalah klasik, yaitu dana, serta sumber daya manusia. Yang terakhir ini memang menjadi kendala serius di Jakarta karena setelah lebih dua dekade berhentinya otonomi Pemuda-Pelajar dan program perkaderan yang mereka jalankan, nyaris sulit menemukan anak-anak muda yang tahu tentang Al-Irsyad dan bersemangat untuk aktif di dalamnya. Maklum, mereka ini rata-rata tak pernah mencecapi jenjang perkaderan di Pelajar Al-Irsyad, yang praktis terhenti semua sejak badan otonom Pelajar Al-Irsyad dihapus di Muktamar 1985 (Tegal). Dan berbeda dengan Surabaya, Bondowoso, atau Pekalongan misalnya, Al-Irsyad di Jakarta memang tak terlalu berakar di kalangan muslimin Jakarta, meski organisasi ini lahir di Jakarta.

Namun layar sudah terkembang, dan pantang surut ke belakang. Tantangan yang ada harus dihadapi dan dipecahkan, bukan membuat kita pesimis dan bimbang. Bila tak ada hambatan serius, insya Allah roda perkaderan formal untuk usia Pelajar Al-Irsyad sudah bisa berputar kembali sekitar Desember mendatang, bertepatan dengan libur sekolah. Target perkaderan adalah anak-anak yang duduk di bangku SLTA. Sebelum itu, direncanakan pula digelar training khusus untuk kalangan Pemuda. Sekali lagi, ini disesuaikan dengan kondisi yang ada, dan partisipasi seluruh warga Al-Irsyad yang peduli dengan perkaderan di organisasinya.


Lost Generation

Kenapa perkaderan di Al-Irsyad bisa terhenti begitu lama? Dan kenapa diperlukan sebuah badan otonom untuk menggerakkannya kembali? Apa hubungannya antara otonomi Pelajar dan Pemuda Al-Irsyad dengan proses perkaderan? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya tak relevan lagi untuk diungkapkan saat ini, mengingat sudah terbukanya pintu otonomi itu. Namun agar kita tak terjerembab untuk kedua kalinya di lubang yang sama, ada baiknya kita membiarkan pertanyaan itu terungkap dan kemudian dijawab. Bukankah kata orang bijak, sejarah itu merupakan guru terbesar?

Pertanyaan diatas bisa dijawab secara filosofis dan historis. Secara filosofis, yang namanya proses perkaderan itu diikuti oleh kalangan muda, termasuk remaja. Melalui sebuah sistem perkaderan formal berjenjang dan non-formal, mereka disiapkan untuk kelak menjadi pengganti para senior mereka di tampuk kepemimpinan organisasi di semua level.

Namun di sisi lain, secara psikologis anak-anak muda itu juga cenderung menuntut ruang yang lebih bebas untuk bergerak, yang tidak terlalu terikat dengan kalangan senior yang umumnya memiliki banyak pertimbangan dalam melangkah. Mereka pasti tidak akan merasa sabar kalau misalnya harus mendapat izin dari petinggi Perhimpunan dalam segenap kegiatan mereka. Sudah umum di banyak organisasi, bahwa kalangan mudanya cenderung radikal dan revolusioner, sedang kalangan tuanya cenderung hati-hati dan banyak pertimbangan. Kedua kelompok ini tidak bisa dihapuskan, dan justeru harus bersinergi sesuai dengan potensi masing-masing, bukan saling mematikan potensi itu.

Nah, jalan untuk itu adalah dengan memberi otonomi pada kalangan mudanya untuk bergerak sesuai potensi besarnya itu. Tentu mereka tak boleh bergerak seenak sendiri, tapi harus tetap mengacu pada nilai-nilai Islam, yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, sesuai amanat para pendiri Al-Irsyad. Namun campur tangan yang terlalu jauh dari para senior, atau tepatnya generasi tua, bisa mengarah pada matinya independensi, sikap kritis, dan revolusioner kaum mudanya. Akibatnya, mereka yang berjiwa muda akan memilih keluar dari barisan dan mencari aktifitas di tempat lain, dan yang tersisa tinggal kader-kader yang tak punya pilihan lain kecuali aktif di Al-Irsyad, baik karena ia tak bisa bersaing di tempat lain, maupun karena “semangat” Al-Irsyadnya yang sangat besar.

Wadah yang otonom seperti itu tentu akan sangat menguntungkan bagi masa depan Perhimpunan, karena anak-anak mudanya bisa lebih bebas mengaktualisasikan diri di lingkungan Al-Irsyad, sejak usia pra-Pelajar sampai jenjang Pemuda atau Puteri Al-Irsyad. Situasi independensi ini tentu sangat kondusif bagi terbinanya kader-kader muda secara maksimal.

Sementara secara histories, bukti sejarah sudah membuktikan betapa kaderisasi di Al-Irsyad terbenam bersama dengan dibenamkannya badan-badan otonom oleh Muktamar 1985 di Tegal. Sejak saat itu, bisa dikatakan habis perkaderan di Al-Irsyad. Sayang, tak banyak generasi tua yang mengakui “kecelakaan” ini, meski bukti ada di depan mata. Barangkali karena saat ini masih ada kader-kader eks Pelajar Al-Irsyad yang tampil menggantikan mereka. Padahal kalau mau lebih jeli, kader-kader ini bias disebut generasi terakhir Pelajar Al-Irsyad yang merasakan jenjang training-training dulu, termasuk penulis sendiri. Tiga tahun di bawah kami, HABIS! Dan itu, memakan waktu lebih dua decade!

Jadi, sadar atau tidak sadar, Perhimpunan Al-Irsyad sudah kehilangan satu generasi (lost generation) kader karena lebih 20 tahun tidak berputarnya perkaderan. Jadi jangan heran, kalau di tahun-tahun mendatang, sampai sekitar 20 tahun kemudian, Perhimpunan ini akan dipimpin oleh orang-orang yang sama sekali tidak pernah merasakan jenjang perkaderan resmi Al-Irsyad. Menyesakkan memang, tapi itulah buah dari kecelakaan sejarah, yang sayangnya lambat untuk disadari.

***

 

Optimis Menatap ke Depan

Meski bayangan lost generation itu sudah menjadi kenyataan, dan mau tidak mau bakal mengancam kelangsungan Perhimpunan Al-Irsyad di masa-masa paling kritis di sekitar tahun 2020 – 2030, kita tetap tak boleh pesimis. Allah Ta’ala melarang kita untuk putus asa. Maka, satu-satunya jalan adalah dengan melangkah ke depan, menembus semua rintangan. Kita tatap masa depan dengan sikap optimis, karena kita percaya betul pada janji Allah Ta’ala yang akan memberi jalan keluar bagi hamba-hambanya yang bertawakal kepada-Nya (lihat QS. ath-Thalaq: 2).

Kita bergerak untuk membina kader-kader umat, dengan penuh semangat dan keikhlasan. Dan selanjutnya kita serahkan kepada Allah atas apa yang akan terjadi, sebab Allah Mahamenepati janji.

Yang dituntut dari kita sekarang adalah bergerak dengan irama yang lebih cepat dibanding masa-masa sebelumnya. Situasi kritis ada di depan mata. Jangan lagi kita berpikir dan bekerja dengan langgam biasa. Tak banyak waktu yang tersisa. Setiap potensi dari cabang sampai ke pusat harus lebih digerakkan untuk membantu dan memfasilitasi proses perkaderan di tubuh organisasi. Sebab bila kembali kita lengah, tunggu saja kapal Al-Irsyad tenggelam di dasar samudera.

Allah Ta’ala masih memberi waktu pada Perhimpunan Al-Irsyad untuk tetap berkiprah setelah melewati ujian yang sangat berat kemarin. Allah telah menyelamatkan warisan ulama besar Syeikh Ahmad Surkati ini dari tangan kelompok yang memiliki sumber daya yang melimpah, hingga membuat banyak orang tercengang karena tak menyangka itu akan terjadi. Hendaknya kita bisa menangkap ‘hadiah’ dari Allah itu sebagai peluang untuk memperbaiki diri, termasuk dalam menata perkaderan yang benar dan secara serius. Sebuah proses perkaderan yang akan melahirkan para pemimpin umat di masa depan yang teguh memegang komitmen ke-Islaman yang bersih dari bid’ah dan khurafat, tapi sekaligus juga rajin menebar salam dan kedamaian bagi seluruh kaum muslimin. Mencintai mereka, bukan membenci karena berseberangan pendapat; mendoakan mereka, bukan meluapkan sumpah serapah dan berbagai stempel tidak islami; serta membawa umat ini memasuki dunia baru yang bersandar pada sains dan teknologi tinggi.

***


Bagi Majelis Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad –yang sebentar lagi menjadi badan otonom Pemuda Al-Irsyad- sendiri, yang menjadi tulang punggung proses perkaderan saat ini, tantangan berat ini akan coba dihadapi dengan berbagai cara.

Secara struktural, bila badan otonom Pemuda Al-Irsyad terbentuk nanti, maka Pemuda Al-Irsyad akan membuat departemen khusus Pelajar Al-Irsyad. Departemen yang bersifat sementara ini, akan menangani seluruh proses perkaderan bagi kader berusia SLTA dan mahasiswa, sambil menyiapkan perangkat struktur dan SDM bagi pembentukan badan otonom Pelajar Al-Irsyad. Mudah-mudahan embrio Pelajar Al-Irsyad bisa dilahirkan dalam waktu tidak terlalu lama karena memang akan sulit bila proses perkaderan itu tidak ditangani secara khusus oleh sebuah badan otonom yang punya independensi tinggi.

Bila siap terbentuk nanti, Pengurus Besar (PB) badan otonom Pelajar Al-Irsyad tidak mesti berkedudukan di Jakarta. Bahkan mungkin untuk beberapa tahun ke depan lebih tepat berada di luar Jakarta, mengingat kondisi Jakarta yang perlu waktu lebih lama untuk menimbulkan himmah Al-Irsyad di kalangan pelajarnya. Idealnya PB Pelajar bertempat di sebuah kota besar ibukota propinsi yang merupakan salah satu sentra pendidikan di tanah air. Setidaknya ada tiga kota yang memenuhi kriteria itu, yaitu Jogjakarta, Surabaya, dan Bandung. Di ketiga kota ini relatif terkumpul banyak pelajar perguruan tinggi, termasuk yang berasal dari keluarga Al-Irsyad, bahkan sudah aktif sebagai pengurus Al-Irsyad di kota itu.

Majelis Pemuda dan Pelajar saat ini tengah menggodok jenjang dan materi perkaderan bagi tingkat Pemuda dan Pelajar, bersama sebuah lembaga yang khusus bergerak di bidang pelatihan-pelatihan sejenis. Maklum, seiring berjalan cepatnya waktu yang membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan manusia, kita tidak bisa lagi memfoto kopi model perkaderan di masa lalu. Harus ada kompromi logis antara idealita Al-Irsyad dengan tuntutan kemajuan zaman. Materi harus banyak disesuaikan untuk membekali kader agar lebih siap menyambut zaman yang tengah berubah cepat.

Bila semua lancar berjalan, mudah-mudahan pada bulan Desember 2007, tepatnya saat liburan sekolah, proses perkaderan sudah bisa berjalan bagi Pelajar Al-Irsyad. Skalanya bisa nasional, tapi mungkin lebih tepat memecahnya dalam beberapa wilayah (region). Ini untuk menampung kebutuhan menyiapkan kader secara lebih cepat dan sekaligus banyak. Pilihannya mungkin antara Jakarta, Bogor, Bandung atau Solo untuk Jawa bagian tengah dan Barat; Surabaya, Malang atau Solo untuk Jawa bagian timur dan tengah; Denpasar mungkin untuk Indonesia bagian timur atau plus Jawa Timur bagian timur; Banjarmasin untuk Kalimantan dan Medan untuk Sumatera.

Semua alternatif masih dikaji, dan tentu saja dengan mempertimbangkan daerah bersangkutan dari segi sumber daya keuangan dan manusianya.

Semoga Allah meridhai perjuangan ini, dan semoga seluruh aktifis Al-Irsyad di Nusantara ini bisa maksimal membantu jalannya proses perkaderan ini di semua lapisan. Sebab, tak banyak lagi pilihan bagi kita: Sekarang atau Tidak Sama Sekali!

Ilal amaami ya banil Irsyad!

***


Penulis adalah sekretaris umum PB Pemuda Al-Irsyad



[ kembali ] [ Indeks Opini Pemuda Al-Irsyad ]